JANGAN BIARKAN HUTAN RUSAK !

Posted: November 27, 2008 by Pasmajaya in lingkungan hidup

JANGAN BIARKAN HUTAN RUSAK !

(Renungan Atas Kondisi Hutan Indonesia Saat Ini)

Pendahuluan

Dalam konsideran Undang – Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, secara tersurat dinyatakan pada pertimbangan pertama (butir a) : bahwa hutan sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia, merupakan kekayaan yang dikuasai oleh negara, memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia, karenanya wajib disyukuri, diurus dan dimanfaatkan secara optimal serta dijaga kelestariannya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.

Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwasanya bangsa Indonesia harus secara kolektif menyikapinya dengan bersyukur dan menyadari bahwa hutan adalah keniscayaan sejarah. Apabila sikap bersyukur ini dijadikan pertimbangan utama maka tindakan yang paling rasional dalam mengelola hutan Indonesia adalah memanfaatkan dan melestarikannya agar hutan dapat berfungsi dalam menyangga sistem kehidupan di muka bumi ini untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang secara berkelanjutan. Seharusnya seperti itulah sikap dan tindakan bangsa Indonesia, tapi apa yang terjadi hari ini. Ternyata sumber daya hutan Indonesia mengalami nasib yang tragis, rusak. Sekali lagi rusak.

Tidak bisa disangkal lagi bahwa berbagai kasus kerusakan hutan yang terjadi sekarang baik pada lingkup global, nasional maupun lokal sebagian besar bersumber dari perilaku manusia. Laju kerusakan hutan Indonesia telah mencapai angka 3,8 juta/ha/tahun. Angka ini cukup memprihatinkan bila dibandingkan dengan tahun 90-an yang hanya 1,2 juta/ha/tahun. Kerusakan hutan ini disebabkan oleh beberapa hal APHI (2004) yakni illegal logging, penyelundupan kayu, perambahan kawasan hutan, konversi kawasan hutan, tumpang tindih peraturan. Akibat kerusakan hutan ini dapat menimbulkan kerugian bagi manusia itu sendiri. Kerugian itu baik dari segi ekonomi, sosial dan budaya.

Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi

Pandangan dunia Islam tentang alam dan lingkungannya tidak dapat dipahami secara utuh tanpa dihubungkan dengan kosnsepsi Islam tentang manusia. Tuhan memilih manusia sebagai khalifah di muka bumi karena manusia memiliki kelebihan bila dibandingkan makhluk lain yakni memiliki akal, juga paling baik bentuknya seperti firman Allah (Surat At Tiin : 4-6) : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putus” dengan kelebihan ini diharapkan manusia dapat menguasai alam untuk kepentingan manusia dan alam itu sendiri. Dengan akal manusia menundukan hutan yang seram menakutkan menjadi hutan yang indah dan mempesona, bukan sebaliknya membuat kehancuran di muka bumi.

Manusia selama ini memandang dirinya sebagai pusat dari sistem alam semesta. Menurut salah satu teori etika lingkungan yakni Antroposentris (Sonny Keraf, 2002) bahwa segala sesuatu yang lain di alam semesta ini hanya mendapat nilai dan perhatian sejauh menunjang dan demi kepentingan manusia. Oleh karena itu, alam pun dilihat hanya sebagai objek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya alat bagi pencapaian tujuan manusia. Alam tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri. Cara pandang ini kemudian melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif tanpa kepedulian sama sekali terhadap alam. adalah sebuah kesalahan cara pandang barat yang bermula dari Aristoteles hingga filsuf-filsuf moderen.

Cara pandang ini sudah jauh-jauh diisyaratkan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 30 tentang penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi.; “ Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat :’Aku menetapkan khalifah di bumi,’ mereka menjawab, apakah Engkau akan mengangkat di sana orang yang merusak dan menumpahkan darah; sementara itu kami bertasbih memuji dan mengquduskan Engkau. Ia berfirman :’ Aku sesungguhnya mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Ayat ini memberi semacam petunjuk bahwa memang manusia kecenderungan merusak bila diberi wewenang yang begitu besar sebagai wakil Tuhan untuk mengelolah dan membangun bumi ini.

Beberapa contoh kerusakan hutan baik skala lokal maupun skala nasional yang disebabkan oleh manusia. Seperti yang diberitakan Seputar Indonesia, 5 Desember 2005 bahwa telah terjadi banjir di 3 kecamatan Kab Lamandau Kalimantan Tengah yang melanda 1200 rumah dan ratusan ribu hektar sawah gagal panen serta beberapa desa yang terisolasi dengan desa lain. Hal ini mengakibatkan aktivitas ekonomi lumpuh total dan sarana dan prasarana rusak berat. Akibat terjadinya kerusakan hutan di hulu sungai telah terjadi juga banjir bandang di Bengkulu, Pacitan, Trenggalek, Denpasar Bali dan 5 Kecamatan di Bireuen NAD (Seputar Indonesia, 13 Desember 2005).

Selain itu kasus lokal yang lagi hangat dibicarakan orang diantaranya perambahan kawasan hutan lindung Kontu di Kab. Muna, Penggundulan Tahura Murhum yamg berimplikasi terhadap berkurangnya debit air, praktek illegal logging di TNRAW. Tidak hanya itu telah terjadi perambahan hutan lindung di Wanci yang mengakibatkan berkurangnya luasan hutan lindung dari 8 ha menjadi 5 hektar serta berkurangnya debit air sungai di hutan tersebut. Yang lebih parah lagi air yang dikonsumsi tersebut rasanya hambar dan asin.

Manfaat Hutan (Tinjauan Al-Qur’an)

Hutan merupakan sumber daya alam yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan ekosistem bagi kelangsungan hidup manusia secara lintas generasi dan keberadaannya bersifat lintas sektoral dan multidimensi baik dalam konteks ekonomi, sosial dan ekologi. Secara ekonomi, hutan menghasilkan berbagai komoditas baik barang dan jasa yang bernilai ekonomi tinggi baik secara tangible dan atau intangible. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an Al Baqarah : 29 yang berbunyi : “Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu….”

Secara ekologi, hutan 1) dijadikan sebagai tempat konservasi sumber daya alam (tanah, air, keanekaragaman spesies tumbuhan dan hewan, dll), 2) konservasi energi dan daur ulang baik yang terjadi dari dalam maupun dari luar dan 3) memperkecil risiko eksistensial, seperti terjadinya banjir, tanah longsor, erosi dll.

Selama ini manusia memandang hutan sebagai tempat produksi pohon dan kayu yang secara ekonomi bermanfaat. Tapi kita tidak menyadari bahwa fungsi ekologi hutan tidak kalah pentingnya. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa bagaimana hutan dapat mengatur tata air, banjir dan erosi, menghasilkan O2 dan menambat CO2 dari udara (carbon stock). Allah menggingatkan kita dengan firmannya : “Dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali-kali bukannlah kamu yang menyimpannya”.

Dari manfaat penyimpanan air ini saja hutan dapat ditrasfer nilainya untuk kepentingan 1) upaya pengembangan elemen pengendalian banjir, 2) pemanfaatan air untuk irigasi, 3) pembangkit tenaga listrik, 4) untuk air minum dan industri, 5) pengelolaan DAS, 6) lalu lintas air, 7) rekreasi, 8) perikanan, 9) pengendalian pencemaran air, 10) pengendalian tanaman air dan serangga, 11) drainase dan pengembangan rawa, 12) pengendalian sediment, 13) pengendalian intrusi air laut dan 14) pengendalian kekeringan dan pengembangan air tanah. Tidak hanya itu nilai kerusakan oleh banjir yang dapat dihindari sebagai hasil konservasi hutan juga tinggi.

Secara religius bahwa hutan diciptakan oleh Allah SWT tidak hanya diperuntukkan untuk manusia melainkan untuk seluruh mahluk yang ada. Oleh karena itu manusia harus menjadikan hutan sebagai tempat yang nyaman untuk merenung dan memikirkan kekuasaan Allah yang luar biasa itu. Dalam Al Qur’an dikisahkan bagaimana Nabi Ibrahim a.s.melakukan perjalanan perenungan diri pada saat itu menemkan jati diri dan penemuan siapa tuhan yang sebenarnya setelah beliau dibuang oleh bapaknya di hutan pada saat raja Namrudz berkuasa kala itu. Sehingga pada manfaat ini dapat disimpulkan bahwa hutan dapat dijadikan sebagai promosi spiritual dan promosi moral.

Ada hal menarik untuk menjadi perenungan kita bersama bahwa riwayat agama-agama besar di dunia menjelaskan bagaimana peran hutan dan pohon dalam turunnya suatu agama. Sebagai contoh Nabi Muhammad SAW, menulis dan mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an di kulit-kulit kayu (pelepah kurma) dan dedaunan. Budha mendapatkan pencerahan ketika beliau bersemedi di bawah pohon Bodhi dan Nabi Isa a.s dilahirkan oleh ibunya Maryam di bawah pohon kurma yang sedang masak buahnya. Setelah dilahirkan kemudian Maryam menggoyang-goyang pohon kurma itu untuk kemudian memakan buahnya guna menambah tenaga beliau.

Sebagai bahan perenungan Allah mengingatkan kita bahwa segala mahluk ciptaan-Nya tanpa kecuali patut bersujud di hadapannya sebagai wujud ciptaan-Nya. Pengingatan itu dituangkan dalam Al Qur’an surat 22 : 18 berbunyi “Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, dibumi, matahari, bulan, binatang, gunung, pohon-pepohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia?..”

Penutup

Mengakhiri tulisan ini, ada sebuah kisah dalam khazanah tradisi Islam yang perlu kita camkan bersama sebagai ilustrasi pandangan yang berorientasi ke masa depan. Seorang kakek tua yang sedang menanam pohon kelapa ditanya oleh seorang raja : “ wahai kakek, bukan saatnya anda menanam pohon kelapa karena pohon itu tumbuhnya dan berbuahnya lama, sedangkan engkau sudah tua”. Si kakek menjawab : “ wahai tuan raja, orang – orang dahulu telah menanam dan kita telah menikmati hasilnya, sekarang kita menanam agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang”. Raja terkesan dan menjawab : “Anda benar”. Cerita diatas mempunyai relevansi dengan hadist Rasulullah “ Pada hari kiamat, apabila di antara kamu di tanganya terdapat anak pohon kurma, maka tanamlah”

Cerita dan hadist diatas memberi gambaran dua hal, pertama Islam memberikan perhatian yang begitu besar kepada upaya “menanam kembali” replanting atau reboisasi dan rehabilitasi lahan yang rusak. kedua, Islam adalah agama yang berorientasi ke masa depan dan masa depan yang paling jauh adalah hari akhirat. Akhirnya Islam pada sebuah kesimpulan yang tegas bahwa Allah melarang orang melakukan kerusakan terhadap alam. Dalam Al Qur’an dikatakan : Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka (bumi). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. 28 : 77).


Faisal Danu Tuheteru

Kendari Ekspres, 3 Januari 2006

Catatan Admin:

Tulisan ini tidak mengalami perubahan dari sumber asli untuk menjaga keutuhan makna yang terkandung dalam teks yang diharapkan oleh penulis. Semoga bermanfaat.

Komentar
  1. Hijauku mengatakan:

    satu pohon seribu kehidupan.. salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s